Keputihan Pada Wanita

Keputihan Pada Wanita - Istilah keputihan acap kali digunakan sebagai referensi umum untuk sekresi vaginal, baik yang normal maupun abnormal. Karena tidak ada istilah lain dalam bahasa Indonesia yang umum dipakai untuk sekresi vaginal. Hal ini menimbulkan kerancuan di masyarakat.

Keputihan atau Fluor Albus sebenarnya merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur, atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan paradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat penderita buang air kecil.

Salah satu jenis keputihan adalah Keputihan Patologis, yang merupakan keputihan yang tidak normal yang terjadi karena infeksi pada vagina, adanya benda asing pada vagina atau karena keganasan. Infeksi bisa sebagai akibat dari virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi. Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual.

Keputihan berasal dari Vulva, Vagina, Servik uteri, korpus uteri dan Tuba, Adapun gejala keputihan sebagai berikut: 

  1. Keluarnya cairan berwarnah putih kekuningan atau putih berbau dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental dan kadang-kadang berbusa. Mungkin gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid pada wanita tertentu. 
  2. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertai (biasanya keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi atau alat kelamin luar) 
  3. Pada bayi perempuan yang baru lahir, dalam waktu satu hingga sepuluh hari dari vaginanya dapat mengeluarkan cairan akibat pengaruh hormone yang dihasilkan oleh plasenta atau urin 
  4. Pada gadis muda, keputihan dialami sebelum masa pubertas, biasanya gejala ini akan hilang dengan sendirinya.

Adapun penyebab keputihan antara lain: 

  1. Sering memakai tissue saat membasuh bagian kewanitaan, sehabis buang air kecil maupun buang air besar 
  2. Memakai pakaian dalam yang ketat dari bahan sintetis 
  3. Sering menggunakan WC Umum yg kotor 
  4. Tidak mengganti panty liner 
  5. Membilas vagina dari arah yang salah. Yaitu dari ke arah anus ke arah depan vagina 
  6. Sering bertukar celana dalam/handuk dgn orang lain 
  7. Kurang menjaga kebersihan vagina 
  8. Kelelahan yang amat sangat 
  9. Stress 
  10. Tidak segera mengganti pembalut saat menstruasi 
  11. Memakai sembarang sabun untuk membasuh vagina 
  12. Tidak mejalani pola hidup sehat (makan tidak teratur, tidak pernah olah raga, tidur kurang) 
  13. Tinggal di daerah tropis yang lembap 
  14. Lingkungan sanitasi yang kotor. 
  15. Sering mandi berendam dengan air hangat dan panas. Jamur yang menyebabkan keputihan lebih mungkin tumbuh di kondisi hangat. 
  16. Sering berganti pasangan dalam berhubungan sex 
  17. Kadar gula darah tinggi 
  18. Hormon yang tidak seimbang 
  19. Sering menggaruk vagina

Untuk mencegah keputihan, perhatikan cara-cara sebagai berikut: 

  1. Menjaga kebersihan di daerah vagina dan sekitarnya. Jangan menggunakan sabun yang terlalu keras, atau pH-nya basa. Gunakan sabun yang telah direkomendasikan oleh dokter, yang memiliki pH seimbang. 
  2. Sebaiknya tidak menggunakan pembilasan vagina secara mendalam bila tidak ada indikasi. Karena justru membunuh bakteri yang dibutuhkan dan mencegah terbentuknya flora normal didalam vagina. Flora normal justru membuat suasana menjadi asam. Suasana asam itulah yang sebetulnya merupakan pertahanan didalam vagina, supaya sumber penyakit tidak dapat hidup nyaman. Jika PH di naikkan menjadi basa atau netral maka bakteri patogen dapat hidup nyaman dan berkembang biak. 
  3. Pasangan seksual juga harus menjaga kebersihan kelamin. Jangan menularkan penyakit ke pasangannya. 
  4. Biasakan membasuh vagina dengan cara yang benar, yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang. Cuci dengan air bersih setiap buang air dan mandi. Membasuh vagina lebih sering dalam satu hari sangat membantu mngurangi kelembaban karena akan menghilangkan sisa cairan, kotoran, dan keringat. Lebih di anjurkan tidak menggunakan cairan pembersih, cukup dengan sabun biasa seperti digunakan untuk mandi. Sebab beberapa pembilas vagina yang mengandung desinfektan justru akan mematikan flora (bakteri) normal yang dibutuhkan untuk menjaga pertahanan pada vagina. Biasakan mencuci tangan sebersih-bersihnya sebelum digunakan untuk membasuh. 
  5. Menggunakan pantyliner harus diganti 3 – 4 jam. Pantyliner yang sudah basah justru dapat menjadi sarang bakteri karena telah lembab. Prinsipnya, sering-seringlah mengganti pantyliner. 
  6. Saat menstruasi, pembalut juga harus diganti sesering mungkin. Darah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. 
  7. Hindari terlalu sering menggunakan bedak talk di sekitar vagina, tisu harum atau tisu toilet, hal itu akan membuat vagina kerap teriritasi 
  8. Hindari suasana vagina lembab berkepanjangan karena pemakaian celana dalam yang basah, jarang di ganti, tidak menyerap keringat, atau memakai celana jins terlalu ketat. 
  9. Perhatikan kebersihan lingkungan. Keputihan bisa timbul lewat air yng tidak bersih, jadi bersihkan bak mandi, ember, ciduk, menara air dan bibir kloset dengan antiseptik untuk menghindari berkembangbiaknya kuman.

Wanita yang mengalami keputihan ini tidak perlu melakukan pengobatan. Perawatan cukup dengan air rebusan daun sirih atau sabun-sabun pembersih vagina yang banyak dijual di pasaran. Akan tetapi, penggunaan sabun ini tidak boleh berlebihan karena dapat mematikan flora doderleins yang berguna untuk menjaga tingkat keasaman di dalam vagina.